Avatar The Legend of Aang

The Legend of Aang

Avatar, Pengendali Udara Terakhir yang dikenal sebagai Avatar : The Legend of Aang. Sebagai salah satu dari “Empat Bangsa,” Negara Api terletak di dekat garis khatulistiwa planet di belahan barat dan memiliki kepulauan yang terdiri dari pulau vulkanik. Tanpa memedulikan batas wilayah aslinya, angkatan perang Negara Api telah melakukan banyak kampanye di penjuru dunia dan banyak wilayah telah jatuh ke dalam kolonisasi Negara Api selama perang imperialistik yang berlangsung satu abad. Negara Api adalah rumah bagi para pria dan wanita yang melakukan pengendalian api, yaitu kemampuan pirokinetik untuk menciptakan dan memanipulasi api.Avatar: The Legend of Aang mengambil tempat di sebuah dunia fantasi, tempat tinggal manusia, berbagai binatang fantastik, dan roh-roh. Peradaban manusia terbagi-bagi menjadi empat bangsa, Suku Air (Water Tribe), Kerajaan Bumi (Earth Kingdom), Pengembara Udara (Air Nomads), dan Negara Api (Fire Nation). Dalam setiap bangsa ada orang-orang yang dipanggil Bender (secara harfiah berarti “Pembengkok”, tetapi dalam hal ini dianggap “Pengendali”) yang memiliki kemampuan mengendalikan unsur alam sesuai bangsa mereka. Seni mengendalikan unsur alam ini merupakan perpaduan gaya seni beladiri dan sihir unsur alam. Dalam setiap generasi, ada seseorang yang mampu mengendalikan setiap unsur, ialah yang dipanggil sebagai Avatar, roh dari planet yang menitis dalam bentuk manusia. Ketika seorang Avatar meninggal dunia, dia akan terlahir kembali di bangsa yang gilirannya selalu bergantian sesuai dengan siklus Avatar, yang seiring dengan musim: musim dingin untuk air, musim semi untuk bumi, musim panas untuk api, dan musim gugur untuk udara. Legenda mengatakan bahwa seorang Avatar harus mempelajari seni mengendalikan unsur sesuai dengan urutannya, dimulai dengan unsur asli bangsa sang Avatar, tetapi kadang-kadang urutan ini bisa dilewat jika keadaan memaksa. Mempelajari pengendalian unsur yang berlawanan dengan unsur asli bangsa seseorang adalah hal yang teramat sulit karena perbedaan gaya seni beladiri dan doktrin-doktrinnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *